KabarPesisirNews.Com
ROKAN HULU RIAU, –
Harapan masyarakat di tiga Desa—Desa Pasir Intan, Desa Rambah Jaya, dan Desa Pasir Agung (DK1)—untuk menikmati akses jalan yang layak hingga kini masih tertahan oleh janji manis pengaspalan.
Jalur yang membentang dari Kubu Manggis menuju pusat Kota Pasir Pengaraian tersebut kini menjadi potret buram infrastruktur di Kecamatan Bangun Purba.
Akses Vital yang Terhambat
Jalur ini sejatinya merupakan urat nadi perekonomian dan pendidikan.
Jika pengaspalan terealisasi, jarak tempuh warga menuju ibu kota kabupaten akan terpangkas signifikan.
Namun, realita di lapangan berbicara lain. Pantauan langsung Tim Media Online KabarPesisirNews.Com saat melintasi jalur tersebut menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Permukaan jalan berubah menjadi medan lumpur yang licin dan dipenuhi kerikil tajam. Kondisi ini memaksa para petani kelapa sawit kesulitan mengeluarkan hasil panen, yang secara langsung berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga mereka.
Dampak Bagi Pendidikan dan Aktivitas Harian
Bukan hanya sektor ekonomi, dunia pendidikan pun turut terdampak. Anak-anak sekolah yang setiap hari harus menuju Kota Pasir Pengaraian terpaksa bertaruh dengan keselamatan.
Jalan yang licin dan berlumpur menjadi penghalang utama bagi mereka dalam menuntut ilmu.
Keluhan serupa datang dari para pekerja yang rutin melintasi jalur tersebut. Salah seorang pengguna jalan mengungkapkan bahwa saat hujan turun, mereka terpaksa mengambil rute memutar melalui Kumu Deli atau Simpang Garuda (DU C).
"Kalau hujan, kami tidak punya pilihan selain memutar jauh. Selain memakan waktu, biaya operasional pun bertambah. Kami hanya ingin janji pemerintah segera ditepati," ungkap salah satu warga Kepada Media Online KabarPesisiraNews.Com
Harapan Besar kepada Pemerintah Daerah
Melalui laporan ini, masyarakat dari tiga desa di Kecamatan Bangun Purba menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu.
Mereka mendesak instansi terkait untuk segera memberikan perhatian serius, setidaknya dengan melanjutkan tahap pengerasan jalan sebagai solusi jangka pendek.
Pembangunan infrastruktur yang merata bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bentuk kehadiran negara dalam mendukung mobilitas dan kesejahteraan rakyatnya di wilayah pelosok.
Masyarakat kini menanti, apakah janji pengaspalan tersebut akan segera mewujud nyata, atau tetap menjadi sekadar wacana yang hanyut terbawa air hujan."****
LIPUTAN : RED/IWANTO
EDITOR : REDAKSI