KabarPesisirNews.Com
PELALAWAN RIAU, -
Realisasi program bantuan sapi dalam rangka penguatan ketahanan pangan di Desa Silikuan Hulu, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, untuk Tahun Anggaran (TA) 2023 dan 2024 kini tengah menjadi sorotan tajam. Program yang menelan anggaran total ratusan juta rupiah tersebut diduga sarat akan konflik kepentingan serta penyimpangan di lapangan.
Polemik bermula dari proses pengadaan yang dikelola langsung oleh Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Silikuan Hulu, Nyoto, bersama istrinya yang berinisial FD. Penunjukan ini menuai kritik karena posisi Ketua BPD yang seharusnya berfungsi sebagai pengawas kinerja pemerintah desa, justru merangkap sebagai pelaksana proyek anggaran desa.
Saat dikonfirmasi pada Kamis (5/11/2026), Nyoto membenarkan keterlibatan dirinya dalam mengelola pengadaan sapi bantuan pemerintah tersebut. "Kalau bisa warga sendiri, mengapa harus orang lain pak," ujarnya membela diri.
Aset Negara Diperjualbelikan
Tak hanya masalah di hulu terkait proses pengadaan, program ketahanan pangan ini juga karut-marut di hilir. Sejumlah warga yang tercatat sebagai penerima manfaat dilaporkan telah menjual sapi bantuan tersebut untuk kepentingan pribadi. Padahal, hewan ternak tersebut merupakan aset program pemerintah yang dilarang keras untuk dipindahtangankan atau dijual secara sepihak.
Berdasarkan data dokumen yang dihimpun, total anggaran program ketahanan pangan untuk pengadaan sapi ini mencapai Rp 333.480.000,00, dengan rincian pencairan sebagai berikut:
• 27 September 2023: Pembelian sapi ketahanan pangan senilai Rp 172.200.000,00 (Bukti pembayaran/Kwitansi No. 00171/KWT/01.2008/2023).
• Juni 2024: Pencairan tahap kedua senilai Rp 67.200.000,00.
• November 2024: Pencairan tahap ketiga senilai Rp 94.080.000,00.
Hingga rilis ini dikeluarkan, pihak Pemerintah Desa Silikuan Hulu belum memberikan penjelasan ataupun klarifikasi resmi. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Desa Silikuan Hulu, Hendrik, belum dapat dimintai keterangan karena yang bersangkutan sedang berada di luar kota untuk menghadiri kegiatan dinas di Pekanbaru.
Warga dan tokoh masyarakat mendesak Inspektorat Kabupaten Pelalawan serta aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas dugaan maladministrasi dan penyelewengan anggaran ketahanan pangan ini demi menjaga transparansi pengelolaan dana desa.
Padahal ada Dasar hukum utama yang mengatur tentang keberadaan, kedudukan, fungsi, tugas, hak, kewajiban, serta larangan bagi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Indonesia meliputi hirarki peraturan perundang-undangan berikut:
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa).
2. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Desa (sebagaimana diubah terakhir dengan PP Nomor 11 Tahun 2019).
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 110 Tahun 2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa.
Secara spesifik, berikut adalah rincian dasar hukum BPD berdasarkan aturan-aturan di atas:
1. Kedudukan BPD
Berdasarkan UU Desa, BPD berkedudukan sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan desa. Kedudukan BPD adalah sejajar dan menjadi mitra kerja Pemerintah Desa (Kepala Desa dan perangkat desa), bukan merupakan bawahan Kepala Desa
2. Fungsi Utama BPD
Merujuk pada Pasal 55 UU Desa dan Pasal 31 Permendagri No. 110/2016, BPD memiliki 3 (tiga) fungsi utama:
• Fungsi Legislasi: Membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa (Raperdes) bersama Kepala Desa.
• Fungsi Aspirasi: Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa.
• Fungsi Pengawasan: Melakukan pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa dalam menyelenggarakan pemerintahan dan anggaran desa
3. Larangan Keras bagi Anggota BPD
Untuk menjamin independensi fungsi pengawasan dan menghindari benturan kepentingan (seperti pada kasus pengadaan bantuan di Desa Silikuan Hulu), aturan hukum menetapkan larangan yang sangat ketat bagi anggota BPD.
Berdasarkan Pasal 64 UU Desa jo. Pasal 26 & 27 Permendagri No. 110/2016, anggota BPD dilarang keras untuk:
1. Menjadi Pelaksana Proyek Desa: Anggota BPD dilarang terlibat langsung sebagai kontraktor, pelaksana kegiatan, maupun supplier pengadaan barang/jasa yang bersumber dari APBDes (Dana Desa/Alokasi Dana Desa). Keterlibatan ini merusak murni-nya fungsi pengawasan BPD.
2. Melakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN): Menyalahgunakan wewenang untuk keuntungan pribadi, keluarga, atau golongan.
3. Merangkap Jabatan: Tidak boleh merangkap jabatan sebagai Kepala Desa, Perangkat Desa, anggota DPR/DPD/DPRD, atau pengurus partai politik.
4. Menerima Imbalan Tidak Sah: Menerima uang, barang, dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat memengaruhi keputusan atau tindakan BPD.
4. Sanksi Pelanggaran Hukum
Jika terbukti melanggar larangan-larangan di atas (termasuk terbukti menjadi pelaksana proyek desa atau terlibat konflik kepentingan KKN), dasar hukumnya menyatakan bahwa anggota BPD yang bersangkutan dapat diberhentikan dari jabatannya.
Selain pelanggaran tupoksi oleh Ketua BPD, tindakan warga yang memperjualbelikan sapi bantuan tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum serius terkait pengelolaan aset negara/desa.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa serta aturan pengelolaan dana bantuan sosial/hibah, berikut ketentuan hukum yang dilanggar:
• Status Aset Terikat: Sapi yang dibeli menggunakan dana desa (APBDes) merupakan kekayaan/aset desa yang diserahkan kepada masyarakat dalam bentuk hibah atau bantuan pemanfaatan kelompok.
Aset ini dilarang keras untuk dipindahtangankan, digadaikan, atau dijual secara sepihak demi keuntungan pribadi.
• Indikasi Tindak Pidana Korupsi dan Penggelapan: Tindakan menjual barang bantuan pemerintah dapat dikategorikan sebagai tindak pidana penggelapan (Pasal 372 KUHP) atau pemanfaatan bantuan yang tidak sesuai peruntukan yang berimplikasi pada kerugian keuangan negara/desa (Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi).
• Sanksi Penerima Manfaat: Warga yang terbukti menjual sapi bantuan wajib dikenai sanksi administratif berupa pengembalian senilai aset yang dijual, dicoret dari daftar penerima bantuan di masa depan, hingga tuntutan pidana jika ditemukan unsur kesengajaan memperkaya diri sendiri dari fasilitas negara.
Kasus di Desa Silikuan Hulu ini menjadi potret pelanggaran ganda: dari hulu berupa pelanggaran wewenang (KKN) oleh oknum BPD, dan di hilir berupa penggelapan aset negara oleh oknum masyarakat."****
LIPUTAN : TIM/DAVIDSON
EDITOR : REDAKSI