KabarPesisirNews.Com
LINGGA KEPRI, –
Jeritan penambang timah tradisional di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, terus menggema. Minimnya lapangan pekerjaan, tingginya biaya hidup, serta belum adanya kepastian aktivitas tambang timah rakyat membuat kondisi ekonomi masyarakat kian terhimpit, terlebih menjelang bulan suci Ramadan.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Forum Penambang Timah Rakyat (F-PETIR) Kabupaten Lingga, Ir. H. Tengku Nazwar, MM, MBA, angkat bicara dan menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh terus dibiarkan tanpa solusi nyata dari pemerintah daerah.
Menurutnya, penambang timah rakyat bukanlah pelaku kejahatan, melainkan masyarakat kecil yang berjuang mempertahankan hidup di tengah keterbatasan pilihan kerja.
“F-PETIR sejak awal berdiri terus memperjuangkan agar penambang timah rakyat bisa bekerja secara tertib, aman, dan memiliki kepastian hukum. Ini bukan semata soal tambang, tapi soal perut rakyat dan keberlangsungan hidup keluarga mereka,” tegas Tengku Nazwar.
Ia menyebut, di Dabo Singkep dan wilayah Kabupaten Lingga pada umumnya, sektor pekerjaan sangat terbatas. Bagi sebagian besar masyarakat, menambang timah secara tradisional menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.
“Kalau tidak menambang, lalu rakyat harus bekerja di mana? Ini yang harus dijawab oleh pemerintah daerah. Negara dan pemerintah tidak boleh abai terhadap kondisi rakyatnya sendiri,” ujarnya.
Tengku Nazwar juga menekankan bahwa F-PETIR tidak pernah mendorong aktivitas ilegal. Sebaliknya, pihaknya justru mendorong pemerintah daerah untuk hadir, membuka ruang dialog, dan mencarikan solusi regulasi yang berpihak kepada rakyat kecil.
Menjelang Ramadan, lanjutnya, kondisi ini menjadi semakin mendesak. Kebutuhan rumah tangga meningkat, sementara penghasilan masyarakat tidak menentu.
“Kami memohon Bupati Lingga, M. Nizar, untuk turun langsung ke lapangan, melihat sendiri realita yang dihadapi penambang timah rakyat. Jangan hanya mendengar laporan di atas meja. Rakyat butuh kehadiran pemimpin, bukan janji,” katanya.
F-PETIR berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, baik melalui kebijakan, fasilitasi, maupun koordinasi lintas instansi, agar penambangan timah rakyat dapat berjalan dengan kepastian dan tidak lagi menjadi sumber keresahan.
“Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya meminta keadilan dan keberpihakan. Biarkan rakyat bekerja dengan tenang demi menyambut Ramadan dengan layak,” tutup Tengku Nazwar.
F-PETIR menegaskan akan terus mengawal dan menyuarakan aspirasi penambang timah rakyat hingga pemerintah daerah benar-benar hadir dan memberikan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lingga."****
LIPUTAN LINGGA : IJAL
EDITOR : REDAKSI